Home » Blog » Corak Batik Solo

Corak Batik Solo

Friday, October 19th 2012. Posted in Batik
batik solo

Batik Solo

Batik Solo – Sejak nama batik semakin berkiprah di kalangan nasional dan internasional, berbagai jenis kain batik pun mulai diburu orang-orang, salah satunya batik Solo. Sebenarnya sejak dahulu pun, kain tradisional dari Solo sudah tersohor di kalangan pecinta batik karena dinilai sebagai pakem pembuatan batik solo. Daerah ini juga menjadi pusat peghasil kain tradisional terbesar di Jawa Tengah. Terlepas dari fungsinya sebagai alat untuk menutup tubuh, kain ini juga menyiratkan akan suatu pesan yang dapat dimaknai dari corak yang tergambar di atasnya. Berikut ini beberapa corak yang sering terdapat dari kain tradisional yang berasal dari kota yang berdekatan dengan Jawa Timur tersebut.

Corak batik solo yang akan kita bahas pertama kali yaitu corak parang. Corak pada batik solo berbentuk suatu garis panjang yang tergambar miring degan sudut kemiringan kira-kira 45” dan memiliki banyak ragam hias. Corak batik solo ini memiliki kemiripan dengan corak lereng. Corak yang kedua yaitu corak banji.

Kain yang bermotif corak banji didominasi motif swastika disamping motif garis-garis. Lambang swastika dalam corak batik solo ini melukiskan masa-masa penjajahan bangsa Jepang yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman. Selajutnya ada corak batik ceplok, yaitu kain yang bergambar binatang, bentuk-bentuk lingkaran ataupun roset beserta variasinya. Jenis corak ini hampir sama dengan corak ganggong namun jenis motif ganggong biasanya garis sejajarnya lebih panjang dan di ujung garis tesebut terdapat tanda +.

Corak-corak yang diatas disebut corak geometris. Selain corak geometris, juga ada corak non geometris misalnya corak buketan. Corak ini biasanya memakai motif dari gambar bunga-bunga yang dihiasi dengan berbagai macam bentuk bunga atau binatang seperti bentuk burung, kupu-kupu atau belalang.

Corak non-geometris diterapkan pula pada corak semen. Pada jenis ini motif batik berbentuk menyerupai gunung. Nama semi berasal dari filosofi sebuah gunung yaitu sebagai tempat tumbuh dan berkembang biak alias bersemi maka jadilah nama “semen”. Bentuk-bentuk satwa seperti garuda atau lard dan mirong menjadi hiasan utama pada jenis corak ini. Yang terakhir adalah corak pinngiran. Mengapa dinamakan pinggiran? Karena bentuk hiasan utama pada corak batik solo  ini biasanya dijadikan hiasan pinggir pada kemben ataupun udheg.

 

Rp. 105.000
Rp --
Shopping cart:
Jumlah = pcs

Lihat Keranjang
Jumlah Nama Barang Berat (kg) Total
0 0,00 Kg Rp 0,00
keranjang anda kosong
Testimoni
Pembayaran
Pengiriman